Apakah kamu pernah merasa berkutat pada suatu hal yang terus mengalihkan pikiranmu, ditambah dengan perasaan cemas berlebihan dan menyebabkan kamu kesulitan dalam mengambil sebuah keputusan?

Tanpa sadar kita semua pernah mengalami kondisi tersebut. Inilah konsep dasar dan makna dari Overthinking.

Jangan berpikir hanya kamu sendiri yang mengalami kondisi ini ya…

Jangan berpikir hanya kamu sendiri yang mengalami kondisi ini ya…

Sebuah studi dari University of Michigan menemukan data bahwa 73% orang berusia 25-35 tahun cenderung melakukan overthinking. Mungkin jika dilakukan sesekali itu nggak bermasalah. akan tetapi, jika dilakukan terlalu sering tentu akan membuat dampak buruk yang bisa mengganggu produktivitas kegiatan kamu.

Bagaimana Cara Menghilangkan Overthinking?

#1 Perhatikan Respons Diri

Saat kamu sedang merasa stress, khawatir, cemas atau takut mulailah untuk berhenti sejenak dari kegiatan dan perasaan tersebut. Lihatlah situasi yang sedang dialami dan perhatikan bagaimana respons dirimu. Hal ini dapat membiasakan dirimu lebih fokus terhadap dampak yang terjadi pada diri dan mengatasi overthinking.

#2 Relaksasi diri

Lakukan kegiatan yang dapat merelaksasi diri. Seperti melakukan teknik pernafasan dengan inhale dan exhale sebanyak 5 kali atau dengan kegiatan meditasi lainnya.

#3 Apresiasi diri

Perlu diingat kesuksesanmu juga bergantung pada faktor lain yang tidak dapat kamu kendalikan, maka kamu harus menghargai segala hal yang telah kamu usahakan dalam melakukan suatu hal. Selain bangga dengan diri sendiri, kamu juga bisa mengapresiasi diri dengan melakukan upgrade diri agar kesuksesan semakin mudah untuk diraih.

Bicara Kesuksesan

Kesuksesan dalam karir maupun sosial tentunya menjadi impian bagi semua orang. Namun, tahukah kamu jika kesuksesan seseorang sangat dipengaruhi oleh softskill yang dimiliki.

Sebuah studi yang dilakukan McKinsey menemukan bahwa 80% petinggi perusahaan menganggap softskill menjadi prioritas utama dalam dunia kerja.

Pentingnya softskill juga dikuatkan kembali oleh Survei The Wall Street Journal yang menyatakan bahwa 92% profesional dan eksekutif merasa soft skill lebih dibutuhkan dari pada hard skill dan 89% profesional juga merasa akan sangat sulit mendapatkan orang-orang dengan soft skill di dunia kerja.